- Advertisement -spot_img
HomeBeranda OpiniJangan Mati sebelum Berjejaring

Jangan Mati sebelum Berjejaring

- Advertisement -spot_img

Saya melanjutkan ulasan tentang modal jejaring. Sedikit “gemas” karena mendapat respon “pedas”.

Pertama, sanggahan dari Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi perguruan tinggi saya, Prof. Rasyid Masri. Pak Dekan ini ahli Sosiologi Dakwah. Dia juga memiliki insting bisnis yang bagus.

Menurutnya, kalau harus memilih, dia tetap mendahulukan modal harta. Alasannya, modal harta berupa uang selalu bisa diandalkan secara cepat setiap saat untuk menyelesaikan masalah. Menurutnya, jika ada kebutuhan mendadak keluarga semua bisa diatasi secepatnya dengan harta.

Sementara dengan jaringan, membutuhkan proses, permohonan atau omongan. Belum tentu juga hasilnya menggembirakan atau sesuai yang diharapkan.

Ulasan yang lebih menarik datang dari Dekan Fak. Syariah dan Hukum, salah satu Dekan andalan saya, Dr. Abdul Rauf Amien. Saya mengandalkan karena terpikat pada “track record” pendidikan formal dan konsistensi jalur keilmuannya. S1, S2, dan S3-nya semua ditempuh di Universitas al-Azhar, Mesir. Bidang keilmuannya fokus pada Hukum Islam. Pernah dikontrak sebagai Dekan beberapa tahun di sebuah perguruan tinggi di Brunei.

Dr. Rauf melakukan refleksi tentang bagaimana sejarah kaum bijak berpihak pada pilihan dua modal sosial itu, dan semua tidak memilih modal harta. Dia menunjuk kasus Nabi Sulaeman yang tidak memilih harta di antara beberapa pilihan yang menggiurkan. Bahkan menurut Dr. Rauf, posisi Rasulullah Muhammad yang menempati urutan pertama sebagai manusia yang paling berpengaruh di dunia dalam buku Michael Hart, karena kemampuannya menahan diri untuk tidak memilih modal harta dalam hidupnya, di mana Rasul berkali-kali digoda untuk mendapatkan kedigdayaan materi.

Lain halnya dengan Professor Muhaemin, seorang Professor Teologi andalan kami, masih muda, kritis, dan pintar meramu diksi. Dia juga Dekan di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Pidato pengukuhannya cukup menggemparkan dengan diksinya “kafir ekologis.” Menurutnya, tidak bisa melihat secara dikhotomis modal jejaring dan modal harta. Orang bisa kaya karena modal jejaringnya kuat, minimal jejaring bisnis. Di sisi lain, orang bisa miskin karena tidak memiliki modal jaringan. Jadi keduanya beririsan dalam realitas.

Pandangan Prof. Muhaemin dikuatkan oleh Dr. Kaswad Sartono, seorang Kyai dan pemilik Pesantren, serta pimpinan Ormas Islam. Menurutnya tidak dikhotomisnya di antara dua pilihan karena adanya sebab yang menjadi pilihan seeorang mementingkan salah satu modal sosial. Orang berjejaring supaya ada ruang untuk menjadi kaya. Ada orang kaya tapi tujuannya adalah supaya bisa berbuat banyak ke orang lain yang berefek pada keluasan jaringan.

Dari empat pakar ini, ada yang lebih mementingkan modal harta, ada yang lebih mengutamakan modal jejaring, ada yang melihat keduanya tidak bisa dipisahkan. Pandangan mereka miniatur kehidupan sosial secara luas. Ada kalangan melihat harta sebagai kunci berbuat baik. Ada kalangan melihat jejaring sebagai penentu kebermanfaatan. Ada melihat kedua-duanya saling menopang. Yang seharusnya tidak ada tapi ada, tidak ada harta, juga tidak ada jejaring. Persis tulisan tebal di bagian belakang baju kaos seorang anak muda: Harta, Tahta, Wanita, Degaga (tidak ada).

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -
Must Read
Related News
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

uluslararası nakliyat uluslararası evden eve nakliyat uluslararası nakliyat uluslararası evden eve nakliyat ev depolama ev eşyası depolama istanbul eşya depolama yurtdışı kargo uluslararası kargo firmaları uluslararası kargo taşımacılığı uluslararası ev taşıma uluslararası eşya taşımacılığı uluslararası ev taşıma uluslararası nakliyat uluslararası evden eve nakliyat
porn